Senin, 17 Februari 2014

Piece 1

   "Hai, namaku Alfa." Laki-laki berkacamata dan mempunyai senyum lebar itu menyapaku.
   "Jane. Salam kenal." Balasku dengan sesimpul senyum. Dia Alfa. Teman sekelasku yang baru. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Aku bersekolah di salah satu SMA Negeri yang ada di kotaku. Banyak nama-nama yang muncul dalam perkenalan hari ini. Rina, Krist, Vian, Dandy, Dana, dan banyak lagi. Yang paling aku ingat dan yang kurasa akan menjadi primadona angkatanku kali ini sepertinya Martha. Dia cewek paling cantik di kelas ini.
   Hari-hari berlalu. Semakin hari kami semakin bisa berbaur. Hingga akhirnya aku bersahabat dengan Alfa, Rina, Krist, Vian, Dandy, dan Dana. Kami selalu bersama hingga banyak yang merasa iri dengan persahabatan kami. Kami tidak selalu bersenang-senang, kami juga mempunyai mimpi masing-masing. Dan banyak sekali hal-hal yang kami lakukan untuk mencapai impian kami tersebut.
 
   Aku dan Alfa adalah dua pribadi yang tak pernah bisa akur. Entahlah, karena memang Alfa sangat jahil padaku. Apapun yang aku lakukan pasti tidak pernah sejalan dengan yang dipikirkannya. Mungkin dia adalah alien yang menyamar jadi manusia berkacamata yang manis, atau apapun lah. Yah, walalupun aku benci mengakuinya tapi dia memang mempunyai senyum lebar yang manis. Tapi, sudahlah. Lupakan kalimat terakhir tadi, Alfa adalah sosok yang amat sangat super menyebalkan sekali banget parah. Dan, adegan kekerasan antara aku dan Alfa adalah suatu rutinitas yang biasa disaksikan di dalam kelas. Mulai dari saling menimpuk buku, saling pukul, saling tendang, adu mulut, saling mutilasi -dan memang rasanya aku ingin sekali memutilasi makhluk satu ini- saling berantem deh. Intinya, aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi ulah ajaibnya. Dan hal ini memicu rasa investigasi dari Rina, salah satu teman yang paling bisa membaca pikiran. Hmm.
   "Alfa, ya?" Bisiknya. Saat itu pelajaran matematika.
   "Iya." hah? Aku bilang apa barusan. "Apa? Alfa? Apanya yang Alfa?"
   "Sesuatu."
   "Maksud lo?"
   "Kali aja ya, tapi sepertinya aku ngeliat kilatan cahaya di mata kalian waktu kalian lagi on air."
   "Kilat?" Aku mupeng.
   "Bloon lo. Suka sama Alfa, ya?" Oke, Rina jleb banget.
   "Suka? Alien? Aku sama sekali nggak berselera sama alien sindrom itu. Oke? Eh, kesambet apaan lo tiba-tiba gila gitu? Tadi malem Alfa nyulik kamu pake UFOnya?"
   "Otak lo periksain ke pasar Senggol sana."
   "Ish!" Dan, aku mulai bete.
   Semenjak  hari dimana Rina berubah menjadi super amat kepo banget sekali itu, spesies-spesies lain dari kami pun lebih mirip Sherlock Holmes si pemandu sorak. Setiap kali aku dan Alfa saling hajar, atau saling adu mulut, Sherlock Holmes pemandu sorak itu memainkan perannya. Sorak-sorak bergembira. Kami salah tingkah.

*bersambung*

Prolog

   Lalu bayangan itu semakin kabur. Suara langkahnya terdengar menjauh. Dia pergi. Dia benar-benar pergi. Sesuatuku telah pergi. Entah, salahku apa? Aku memang terlalu egois, tetapi bukan dengan cara ini. Bukan dengan menyakitiku.
   "Al..." Rintihku memanggilnya dalam sela tangis. "Jangan tinggalkan aku. Kenangan ini sudah mendarah daging. Kita pernah berjanji bahwa kita tak pernah berakhir."
   "Maaf, Jane."
   Dan, itulah kata terakhir yang terdengar olehku sebelum akhirnya ia menghilang.